HDCI Aceh: Touring Hijau, Tanam Ribuan Pohon di Leuser

Kegiatan bermotor seringkali diidentikkan dengan kebisingan dan polusi udara di jalan raya. Namun, citra tersebut perlahan mulai bergeser seiring dengan meningkatnya kesadaran komunitas motor besar terhadap isu lingkungan hidup. Salah satu langkah nyata yang patut diapresiasi datang dari HDCI Aceh yang baru-baru ini menggelar sebuah inisiatif bertajuk Tanam Ribuan Pohon. Agenda ini bukan sekadar ajang berkumpulnya para pecinta motor gede, melainkan sebuah misi konservasi yang difokuskan pada salah satu paru-paru dunia yang paling kritis, yakni Kawasan Ekosistem Leuser.

Leuser bukan hanya sekadar hutan biasa; ia adalah benteng terakhir bagi berbagai flora dan fauna langka di ujung pulau Sumatera. Melalui kegiatan Touring Hijau, para anggota komunitas ingin menunjukkan bahwa hobi otomotif dapat berjalan beriringan dengan pelestarian alam. Perjalanan menuju pedalaman Aceh ini dirancang sedemikian rupa agar memberikan dampak positif jangka panjang bagi ekosistem setempat. Tidak hanya melintasi aspal yang berkelok, para pengendara berhenti di titik-titik kritis untuk memulai aksi restorasi hutan yang sudah mulai tergerus oleh pembalakan liar maupun pembukaan lahan.

Fokus utama dari kegiatan ini adalah upaya untuk tanam ribuan pohon di area yang dianggap sebagai zona penyangga Taman Nasional Gunung Leuser. Pemilihan jenis bibit pohon pun tidak dilakukan secara sembarangan. Komunitas bekerja sama dengan dinas lingkungan hidup dan masyarakat lokal untuk memastikan bahwa pohon yang ditanam adalah spesies endemik yang mampu menyerap karbon secara maksimal serta menyediakan sumber makanan bagi satwa liar. Dengan melibatkan masyarakat desa hutan, proyek ini juga bertujuan untuk mengedukasi warga sekitar mengenai pentingnya menjaga hutan demi keberlangsungan sumber mata air dan mencegah bencana longsor.

Kawasan Leuser memiliki tantangan tersendiri dalam hal aksesibilitas. Medan yang berat dan menantang justru menjadi daya tarik bagi para pengendara motor besar untuk menjangkau lokasi-lokasi yang jarang tersentuh oleh bantuan formal. Dalam perjalanan ini, setiap peserta tidak hanya membawa perlengkapan berkendara, tetapi juga membawa tanggung jawab moral untuk memulihkan kembali jalur hijau yang telah rusak. Aksi ini menjadi bukti bahwa komunitas motor memiliki kapasitas logistik dan kemauan yang kuat untuk menjadi pelopor dalam gerakan penyelamatan lingkungan.